Skip to main content

Ekonomi, keluarga dan tempat lahir bukan alasan buat berhenti menggapai mimpimu.

Seperti yg pernah saya janjikan akan menulis perjalana terjal menuju Tokyo, perlu di ketahui ini hanya bertujuan untuk berbagi dan syukur-syukur bisa memotifasi seseorang, dgn menulis latar belakang saya, itu sebuah bukti yg saya coba tunjukkan, bahwa alasan kemiskinan, tinggal di dusun, tidak ada beking dan segala keterbatasan janganlah di jadikan alasan untuk tidak menjadi dirimu dgn segala yang kita impikan.
Beberapa survey di negara maju membuktikan, disaat masa-masa tua seseorang, hal yg sering mereka sesali dan mengusik mereka adalah, sesuatu yg mereka impikan atau inginkan dalam hidup mereka yg tak sepenuhnya mereka perjuangkan. Menua dengan impian yg tak tergapai, adalah kesalahan fatal yg dilakukan manusia, padahal Allah menciptakan merka sesuai pungsi masing-masing untuk mengisi kepingan puzzle kehidupan ini.
Backgraound saya dari keluarga sederhana, semua terlihat baik dan lancar sampai usia 13thn, lahir sebagai anak pertama dari 5 bersaudara, tiga laki-laki dan dua perempuan, anak pertama sampai ketiga semuanya laki-laki. Beda usia kami hanya setahun, ibu saya menikah sangat muda. Usia 16 thn, Tak terbayang di usia 19 thn dia memiliki tiga anak laki yg hampir sama besar, ketangguhan sosok wanita dusun yg terbentuk alami, sabar, nrimo dan mencoba jadi yg terbaik buat anak-anak dan suami. ketangguhan seorang ibu dgn segala keterbatasannya.
Beberapa tahun kemudian lahirlah dua adik perempuan saya, lengkap sudah keluarga ini dgn keberadaan anak laki2 dan perempuan yg berjumlah 5 orang, dan tentusaja ujian orang tua saya kian berat dan bertambah, terutama dalam hal nafkah dan pendidikan.
Sampai usia saya memasuki remaja sekitar 16 thn, ekonomi keluarga semakin terpuruk, apalagi ayah saya memang sudah sakit-sakitan sedari muda. Takbanyak yg bisa dilakikan ibu saya yg hanya sekolah sampai kelas 5 SD, jadi statusnya sekolah dasar pun tidak selesai, justru ini jadi nilai tambah khusus buat ibu, meski tidak tamat SD, beliau sangat rajin membaca, termasuk membaca koran bekas bungkus cabe atau bawang yg di beli beliau waktu kepasar,  pasar di dusun kami hanya satu kali seminggu, yaitu hari kamis. Saya akan bangun pagi2. Buat kepasar
Hanya sekadar cuci mata atau beli bakso, moment yg saya sangat tunggu setiap minggunya hahaha.
Disaat usia SMA , ekonomi keluarga sudah sampai titik terendah, usia yg hanya beda setahun, membuat tiga dari kami memasuki jenjang sekolah menengah hampir bersamaan, akibatnya saya harus berhenti sekolah disusul dua adik laki- laki saya kemudiannya.
Jelas satu point disini terlihat, saya tidak punya dasar pendidikan yg tinggi, yg selalu di jadikan alasan atau pembenaran banyak orang untuk mengalah dan mengubur mimpi- mimpinya. Yg justru akan menjadi mimpi buruk dan menghantui sepanjang kehidupan yg akan di jalani.
Satu hal penting yg membuat saya beruntung, ayah saya sarjana tahun 70 an, karna keterbatasan fisik dan prinsip serta idealisme beliau, dia hanya jadi sosok biasa, yg semestinya pada saat itu bisa membuat beliau jadi pejabat minimal di daerah dgn mudahnya, hal yg selalu ibu saya ungkit dan sesali, dan saya tau pasti, pendidikannya tsb justru jadi bumerang dlm kehidupannya, menyakiti batinnya, tentu juga harga dirinya, butuh waktu yg sangat lama saya bisa benar-benar mengerti beliau, saya hanya mengingat sisi baik dan kuat nya beliau dalam membentuk karakter saya, tak membiarkan pikiran negarive tentang kelemahan beliau merusak rasa hormat saya, toh pada ahirnya, kasih sayang dan rasa hormat dalam keluarga melebihi segalanya, melebihi harta dgn segala kesuksesan hidup ku.
( mata saya sedikit sembab waktu mengingat dan menulis tentang beliau .)
Kelebihan beliau terletak dari cara menyikapi kehidupan yg beliau pilih,beliau mengajar kan nilai-nilai moral yg sangat tinggi dan baik,  memberi nafkah halal meski harus berjualan telur ayam kampung yg saya tau persis sangat menyakiti harga dirinya, bagi beliau nafkah itu akan menentukan karakter anak-anaknya di masa depan, dan itu terbukti, meski sekolah pas-pasan, beberapa diantara kami sukses dlm bidang masing2. 2 adik perempuan saya alhamdulillah sarjana. Satu pegawai negri tanpa harus menyogok , tentu juga ada yg masih berjuang,
Sampai disini dua pesan moral yg bisa kita dapat, dan menjadi patokan hidup saya:
1. IQ kadang bisa tidak berarti apa2 kalo tidak di barengi I can, lebih tajam lagi, IQ bisa kalah oleh I Can, banyak bukti orang yg pintar disekolah dlm kehidupan nyata hanya biasa-biasa saja. Sementara murid yg tidak menonjol, malah sukses dlm karirnya, intinya, takberpendidikan tinggipun, bukan alasan buat berhenti mengejar mimpi kita,
2. Nafkah halal, itu sangat penting dalam membesar kan anak-anak kita, itu akan menjadi darah dan daging juga membentuk moral dan karakter seseorang, berilah reski halal keluargamu, insyaallah Allah mempermudah jalan masa depannya.

Sampai disini dulu topik cerita saya kali ini, oh ya sahabat pembaca sekalian, saya lagi menulis buku, yg insyaallah taun ini bisa diselesaikan, mohon doa nya, smoga lancar dan di mudah kan. Karna buku perdana, disana saya akan tulis lebih detil dan dlm lagi, proses panjang perjalanan sehingga sampai di Tokyo saat ini, yg terpenting di cerita dan buku tsb, adalah nilai perjuangan yg kitaharapkan bisa membuka fikiran terutama orang2 yg masih mengejar atau baru akan menggapai impiannya. Wassalam. To be continue ( bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

Kolam Renang Bayi ter Dingin dan Tinggi di Tokyo(bilingual)freezing baby...

BELAJAR BERENANG Khusus BERBALIK ARAH in English

CARA BELAJAR BERENANG Yg BAIK&BENAR BUAT PEMULA In English&Bahasa( Learn...